Crude Palm Oil (CPO) atau minyak mentah kelapa sawit merupakan bahan untuk minyak goreng.  Kenaikan harga CPO tentu akan berpengaruh juga terhadap kenaikan harga minyak goreng. Kenaikan harga minyak goreng tentunya akan sangat dikeluhkan oleh masyarakat terutama ibu rumah tangga dan usaha kuliner. Kenaikan harga CPO sebenarnya telah terjadi sejak Mei 2020 hingga tahun 2021 dan pada tahun 2022 harga CPO diprediksi juga masih tinggi [1]. 

Kenaikan harga CPO dipicu oleh pasokan CPO dunia yang berkurang sehingga tak mampu memenuhi permintaan global. Pasokan CPO berkurang salah satunya disebabkan adanya penurunan produksi minyak sawit di Malaysia yang mana termasuk dalam penghasil minyak sawit mentah terbesar. Produksi minyak sawit di Malaysia menurun berkaitan dengan adanya lockdown akibat pandemi Covid-19 yang cukup lama dan adanya bencana cuaca buruk pada tahun 2019 [2], [3]. 

Sewa PC Bangka

Indonesia juga termasuk negara penghasil CPO terbesar, namun sebagian produsen CPO tidak terintegrasi dengan produsen minyak goreng [3]. Meski pasokan CPO di Indonesia masih dalam kategori aman, produsen minyak di Indonesia membeli CPO dengan mengikuti harga CPO dunia. Hal ini tentu akan menyebabkan harga minyak goreng menjadi meningkat [4]. Adanya kesepakatan tidak tertulis mengenai produsen minyak, tentu ketika harga salah satu minyak goreng naik akan berpengaruh pula pada komoditas lain seperti minyak kedelai dan minyak bunga matahari [5]. Hal-hal tersebut tentu menjadi salah satu penyebab harga minyak goreng meningkat dikarenakan mengikuti harga minyak goreng dunia [6]. 

Pada tahun 2022 ini diprediksi harga CPO akan masih tetap tinggi [7]. Hal ini tentu berdampak pada harga minyak goreng. Harga komoditas minyak goreng yang tinggi tentu akan meresahkan masyarakat. Oleh karena itu, pemerintah melalui Kementrian Perdagangan (Kemendag) menetapkan kebijakan satu harga untuk minyak goreng yaitu Rp 14.000 per liter. Kebijakan tersebut berlaku mulai Rabu, 19 Januari 2022 lalu di seluruh Indonesia [8].